Proses Pengolahan Air Minum


(Diagram oengolahan air minum)

Proses Pengolahan Air Minum 


1.      Bahan baku
Bahan baku yang digunakan oleh AMDK PDAM Kota Bandung dalam proses pengolahan air mnum adalah air alami yaitu air dari mata air, yang sesuai dengan persyaratan sumber air untuk produksi.
a.       Jenis air minum
Jenis air minum yang digunakan sebagai bahan baku adalah air yang sesuai dengan persyaratan air minum yaitu tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, serta kandungan kimianya memenuhi persyaratan yang berlaku. Selain itu juga tidak boleh mengandung mikroba pathogen dan segala yang membahayakan kesehatan manusia.
Bahan baku yang digunakan dalam proses pengolahan air minum dalam kemasan PDAM berasal dari sumber mata air pegunungan Lembang yatiu mata air Cibadak. Selain itu juga digunakan sumber mata air Ciwangun. Air yang berasal dari mata air tersebut kemudian ditampung dalam reservoir yang berkapasitas 20m3.
AMDK PDAM Kota Bandung menerapkan syarat mutu air dalam kemasan menurut standar industi yang berlaku di Indonesia yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-3553-2006.
Tabel 2.1
Standar Nasional Indonesia (SNI)
No. 01-3553-2006.
Kriteria Uji
Satuan
Standar
pH
-
6,9-7,0
Sisa klor
Ppm
0,3-0,4
Warna
PtCo
Maks. 5
Bau
-
Tidak berbau
Rasa
-
Tidak berasa
Kekeruhan
NTU
Maks.5
TDS
Ppm
<500
TPC
ml
1.10-2
Total E.coli
Koloni/ml
0,0/100
E.coli
ml
0,0/100
(Sumber AMDK PDAM Kota Bandung)
b.      Bahan baku penunjang
Bahan baku penunjang yang digunakan dalam proses pengolahan air minum dalam kemasan ini adalah ozon. Di pabrik AMDK, ozon dibuat dengan alat oxon-generator yang dapat mengubah oksigen menjadi ozon dengan melewatkan oksigen melalui percikan bunga api yang terjadi antara dua lempengan kutub listrik bertegangan sangat tinggi (15.000 volt). Ozon merupakan senyawa kimia yang sangat labil dan mudah berubah kembali menjadi oksigen dan air dengan melepaskan satu bentuk radikal OH dan H2O dengan persamaan sebagai berikut :
O3 + H2à HO3- + OH-
HO3- + OH- à 2 HO2
O3 + HO2 à HO + O2
HO + O3 à H2O + O2
HO dan HO2 ini mempunyai daya oksidasi yang besar dan merupakan desinfektan yang sangat efektif membunuh bakteri. Ozon yang dicampurkan ke air sebelum diisi ke botol akan secara berangsur berubah kembali menjadi oksigen. Lamanya proses perubahan ini tergantung dari suhu air. Semakin tinggi suhu, semakin cepat pula prosesnya.
2.      Proses Pengolahan Air dalam Kemasan
Proses pengolahan air minum dalam kemasan ini sangat penting karena adanya pengolahan maka akan didapatkan air minum yang memenuhi standar yang ditentukan. Proses pengolahan pada AMDK PDAM Kota Bandung dilakukan dengan melalui beberapa tahapan dan proses sebagai berikut :
a.       Penampungan I (Reservoir)
Air yang berasal dari mata air dialirkan melalui pipa kedalam bak penampungan (reservoir) sebagai tempat penampungan air pertama. Bak penampungan ini terbuat dari beton yang bagian dalamnya dilapisi porselen yang dapat menampung air sebanyak 20 m3. Pada penampungan awal ini dilakukan desinfektan awal dengan pembubuhan NaHOCl dan proses netralisasi ini dilakukan secara otomatis, yaitu dengan menggunakan pH controller yang mengatur kerja pompa yang dihubungkan dengan chemical tank kedalam bak penampungan.
Jika air dalam keadaan asam, maka bahan kimia yang digunakan untuk menetralisasinya adalah senyawa kimia natrium hipoklorit (NaHOCl). Fungsi utama penambahan NaHOCl adalah sebagai desinfektan awal. Air yang telah dalam keadaan netral kemudian akan dialirkan kedalam tangki penampungan air baku (raw water tank) dengan menggunakan dua pompa yang dioperasikan secara otomatis bergantian setiap 10 menit.
b.      Penampungan II (Raw water tank)
Air yang berasal dari bak penampungan (reservoir), dialirkan ke dalam tangki penampungan air baku (raw water tank) dengan bantuan dua buah pompa yang bergantian setiap 10 menit. Tangki penampungan ini terbuat dari Fiberglass Reinforced Plastic (FRP) dengan kapasitas 20 m3 dan ditempatkan disebelah ruang produksi.
Dalam tangki penampungan air baku (raw water tank) terjadi proses pengendapan, sehingga secara tidak langsung proses pengendapan dapat mempermudah proses penyaringan air, karena sebagian partikel-partikel yang berukuran besar yang terdapat dalam air yang telah mengendap. Partikel-partikel tersebut dapat berupa lumpur, pasir, kayu, dan sebagainya. Tangki ini dilengkapi dengan sampel air yang akan diperiksa.

c.       Penyaringan I (Sand Filter)
Air yang masih mengandung kotoran dari kotoran dari tangki penampungan dialirkan melalui pipa dengan bantuan dua buah pipa yang bekerja bergantian setiap 10 menit kedalam tangki penyaringan pasir. Penyaringan pertama dengan menggunakan sand filter ini dilakukan untuk menyaring kotoran dan kekeruhan yang terdapat dalam air baku seperti lumpur, lumut, pasir, atau partikel-partikel yang lebih kecil, besi dan mangan. Penyaringan ini adalah proses pertama yang dilakukan untuk menyaring air baku.
Penyaringan I ini dilakukan dengan mengguanakan penyaring pasir atau sand filter yang mempunyai kapasitas 20 m3/jam. Tangki sand filter ini terbuat dari stainless steel dan memiliki susunan penyaring 800 kg pasir silica berukuran 12 X 20 mesh, 300 kg anthracite berukuran 8 X 16 mesh dan 200 kg gravel yang berukuran 2 X 5 mesh. Volume media penyaringan yang digunakan adalah 80% dari tinggi tangki. Penyaring pasir ini dilengkapi dengan pressure gauge yang berfungsi untuk mengukur tekanan di dalam filter dan dilengkapi juga dengan air relief yang berfungsi sebagai alat untuk mengeluarkan kelebihan tekanan yang terjadi dalam penyaring serta dilengkapi dengan sample point untuk mengambil air sampel yang akan diperiksa. Air yang telah melalui penyaringan I (sand filter) dan bebas dari kotoran seperti lumpur, lumut, pasir, besi dan mangan tersebut kemudian dialirkan kedalam penyaringan karbon melalui pipa.
d.      Penyaringan II (Carbon active filter)
Air yang berasal dari sand filter kemudian mengalami proses penyaringan II. Penyaringan II ini menggunakan karbon aktif untuk menyerap bau, warna, rasa, dan zat organic yang terdapat dalam air. Penyaringan karbon memiliki kapasitas 25 m3/jam. Tangki karbon filter ini terbuat dari stainless steel dan di dalamnya berisi media penyerap 450 kg karbon aktif berukuran 12 X 20 mesh dan media penyangga 250 kg silica gravel yang berukuran 2 X 25 mesh. Volume karbon yang terisi dalam tangki adalah 80% dari tinggi tangki dan lubang outlet. Penyaring karbon juga dilengkapi dengan pressure gaugeair relief, dan sample point. Air yang telah melalui penyaringan karbon kemudian kemudian dialirkan kedalam penyaringan halus I (filter 5 µ) melalui pipa dengan bantuan dua buah pompa yang bekerja bergantian tiap 10 menit.
e.       Penyaringan Halus I (Filter 5 µ)
Penyaringan halus dalam proses pembuatan air minum dalam kemasan ini dilakukan sebanyak empat kali. Penyaringan halus I ini dilakukan sebelum penampungan produk I, sedangkan penyaringan halus II dan III setelah penampungan produk I, serta penyaringan IV setelah penampungan produk II sebelum pengisian.
Proses penyaringan halus I ini dilakukan dengan menggunakan filter 5 µ. Air yang berasal dari carbon filter melalui pipa dengan bantuan pompa dialirkan kedalam tangki filter 5 µ yang terbuat dari stainless steel, dengan kapasitas 24 m3/jam. Didalam tangki ini terdapat filter 5 µ sebanyak Sembilan buah. Penyaringan ini dilakukan untuk menyaring kotoran dan partikelnya yang lebih besar dari 5 µ dan kotoran yang partikelnya kurang dari 5 µ akan lolos bersamaan dengan air yang selanjutnya akan disaring dengan filter 1 µ. Hasil dari penyaringan ini merupakan produk air setengah jadi yang kemudian dialirkan melalui pipa dan ditampung dalam tangki penampungan produk I (product storage I).
f.        Penampungan produk I (product storage I)
Produk setengah jadi yang telah disaring dengan filter 5µ kemudian ditampung dalam tangki penampungan I (product storage I). Penampungan ini berfungsi untuk menampung produk air setengah jadi untuk sementara waktu dan sebagai tempat cadangan air apabila suplai air mengalami pemberhentian sementara, misalnya dikarenakan sand filter dan carbon filter mengalami backwash (sedang dibersihkan). Tangki penampungan ini terbuat dari stainless steel yang memiliki kapasitas 15 m3. Tangki penampungan produk I ini dilengkapi dengan filter 0,1 µ yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk kedalam tangki sewaktu terjadi penurunan air yang disebabkan air di pompa keluar sehingga diharapkan udara yang masuk tangki tidak akan mencemari air produk setengah jadi dan kualitas air tetap bisa dijaga.
g.      Penyaringan halus II ­(filter 1 µ)
Produk setengah jadi yang ditampung pada product storage I kemudian dialirkan melalui pipa kedalam penyaringan halus II yang menggunakan filter 1 µ. Tangki ini terbuat dari stainless steel yang memiliki kapasitas 24 m3/jam. Didalam tangki ini terdapat Sembilan buah filter 1µ. Penyaringan halus II ini berfungsi untuk menyaring kotoran yang besar partikelnya lebih besar dari 1 µ. Sedangkan kotoran yang besarnya lebih kecil dari 1 µ akan lolos bersamaan dengan air yang selanjutnya akan disaring lagi dengan penyaringan halus III (filter 0,45 µ).
h.      Penyaringan halus III (filter 0,45 µ)
Penyaringan halus III ini dilakukan dengan menggunakan filter 0,45 µ. Tangki ini terbuat dari stainless steel yang memiliki kapasitas 24 m3/jam dan di dalam tangki terdapat Sembilan buah filter 0,45 µ. Fungsi tangki ini adalah untuk menyaring kotoran yang partikelnya lebih besar dari 0,45 µ, jadi apabila ada kotoran yang besar partikelnya lebih kecil dari 0,45 µ maka kotoran tersebut akan lolos bersamaan dengan air. Air hasil penyaringan halus III kemudian dialirkan melalui pipa ke tangki ozon untuk proses ozonisasi.
i.        Ozonisasi
Ozon berfungsi sebagai desinfektan yaitu pembunuh mikroorganisme pathogen yang mungkin terdapat dalam air. Prinsip pembuatan ozon adalah dengan mengalirkan udara bebas melalui percikan bunga api yang dihasilkan oleh energy listrik bertekanan tinggi sehingga terbentuklah ozon. Dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
O2 + On  à O3
Ozon yang terbentuk kemudian dialirkan  kedalam tangki ozon (ozon tank). Air yang telah disaring kemudian dialirkan kedalam tangki ozon tersebut untuk proses ozonisasi. Ozon dalam air akan mengalami proses reaksi sebagai berikut :
O3 + H2O
HO3- + OH-
HO3- + OH-
2 HO2
O3 + HO2
HO + O2
HO + O2
H2O + O2

HO dan H2O yang terbentuk bersifat radikal aktif, dan hal inilah yang berfungsi sebagai desinfektan yang dapat membunuh mikroorganisme pathogen dalam air.
Ozon yang dicampurkan ke dalam air sebelum diisi kedalam gallon dan cup akan secara berangsur berubah kembali menjadi oksigen. Kandungan oksigen yang dicampurkan dengan air adalah 0,2 – 0,4 ppm dengan suhu 200C – 250C.
j.        Penampungan produk II (product storage II)
Produk air yang telah mengalami proses ozonisasi kemudian ditampung dalam tangki penampungan II (product storage II). Penampungan ini berfungsi untuk menampung pruduk air jadi yang telah diinjeksikan dengan ozon untuk sementara waktu sebelum disaring kembali dengan penyaringan halus IV (filter 0,2µ). Tangki ini terbuat dari stainless steel yang memiliki kapasitas 15 m3 yang dilengkapi dengan filter 0,2 µ yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk kedalam tangki ketika terjadi penurunan volume air yang disebabkan air di pompa keluar sehingga diharapkan udara yang masuk ke dalam tangki tidak akan mencemari produk air jadi dan kualitas air tetap terjaga.
k.      Penyaringan halus IV (filter 0,2 µ)
Produk air yang telah di tamping dalam product storage II, sebelum diisikan ke dalam gallon atau cup (filling) akan disaring kembali dengan penyaringan halus IV. air dari product storage II melalui pipa masuk kedalam tangki penyaringan halus IV. penyaringan halus IV ini dilakukan dengan menggunakan filter 0,2 µ. Tangki penyaringan halus IV sama seperti tangki penyaringan halus lainnya yakni memiliki kapasitas 25 m3/jam. Penyaringan halus IV ini selain berfungsi untuk menyaring kotoran yang mungkin terbawa atau belum tersaring dari penyaringan halus sebelumnya yaitu kotoran yang ukuran partikelnya lebih besar dari 0,2 µ. Selain itu, pada penyaringan halus yang ke empat ini juga diharapkan dapat menyaring mikroorganisme yang mungkin masih terdapat dalam penyaringan 0,45 µ. Air hasil penyaringan halus IV ini selanjutnya dialirkan melalui pipa ke mesin filler untuk kemudian dimasukkan ke dalam kemasan gallon atau cup.
l.        Pengisian dan penutupan gallon atau cup
Pengisian produk air minum dengan kemasan gallon yang berkapasitas 19 liter maupun cup yang berkapasitas 220 ml dilakukan dengan menggunakan mesin dalam ruang steril. Setelah melakukan pengisian gallon atau cup, selanjutnya akan dilakukan proses penutupan secara otomatis menggunakan mesin di dalam ruang steril itu pula.
m.    Visual control gallon atau cup
Produk setelah melalui proses pengemasan dan penutupan, selanjutnya akan diperiksa apakah dalam air kemasan itu masih ada kotorannya atau tidak. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan lampu TL (tube lamp). Air dalam kemasan gallon atau cuptersebut harus jernih, bersih, tidak keruh, volumenya sesuai, kemasan tidak pecah, tidak bocor dan tidak penyek.
n.      Pemberian label dan sealing gallon.
Sebelum produk dikirim ke konsumen, terlebih dahulu produk tersebut harus di beri label dan sealing pada gallon. Pemberian label dan sealing dilakukan setelah pemeriksaan (visual control). Setelah diberi label, gallon tersebut akan dimasukkan ke dalam alat pemanas untuk mengerutkan label tersebut (sealling).
o.      Penyimpanan
Produk yang telah jadi dan dikemas, baik gallon maupun cup selanjutnya akan disimpan dalam gudang penyimpanan. Lama penyimpanan di dalam gudang penyimpanan kurang lebih selama enam jam. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan ozon berubah menjadi oksigen, supaya produk tidak berbau ozon.

Komentar